Anomali atau Ghost data???

Dalam bidang geofisika apapun metodenya, hal yang dianalisa pertama dari suatu data adalah “anomali” nya. Karena metode geofisika berangkat dari kemenerusan “homogenitas” suatu lapisan yang disinkronkan dengan suatu metode pengukuran tertentu didapatkan suatu data, sehingga terlihat suatu anomali/ketidak merenusan yang mengindikasikan adanya “sesuatu”…

Nah, hal ini kan menjadi sah-sah saja ketika kita mendapatkan suatu data pengukuran yang nilainya berapapun karena pasti tidak ada data yang homogen. Tetapi apakah data tersebut sesuai dengan “kondisi sebenarnya” dalam lapisan?? Hal itu yang perlu dipertanyakan

Suatu data tentunya akan sangat bagus jika data yang terukur itu mewakili suatu kenampakan parameter strukturnya,tapi bagaimana jika dalam suatu data itu ada data yang aneh??. Misalkan jika ada variasi data berkisar 1-10 tapi ternyata ada satu data yang berorde sampai ratusan. Nah, kalo ada masalah kaya begitu kan kita harus bisa menganalisa apakah data tersebut adalah data anomali (yang menunjukkan perubahan struktur) atau data aneh atau sebut saja “ data ghost”. Jika kita berhadapan dengan data tersebut tentu saja kita akan bingung jika kita tidak mengetahui suatu parameter benar atau salahnya kan?? Nah,dalam kasus inilah konsep dasar dan analisa real dari seorang data analiser(sebutan untuk orang yg menganalisa data’ he he) ditekankan. Seorang analiser harus tahu apakah ada data yang seperti itu ataukah itu hanya data Ghost yang merupakan suatu kesalahan paralaks atau kesalahan alat ukur.

Tentu saja dalam mengatasi hal tersebut , cara yang paling”bodoh” adalah dengan melakukan pengukuran ulang. Atau mencari offset sehingga titik data yang dirasa aneh tersebut tersampling oleh beberapa data, kemudian difitkan mana yang lebih benar. Hal tersebut tentu saja akan tidak efisien secara biaya dan waktu. Maka untuk mengantisipasi masalah tersebut tentusaja pada saat pengukuran kita harus membuat suatu keadaan yang sempurna atau ideal sehingga kesalahan suatu alat pada saat akuisisi bisa diminimalisir. Apakah keadaan itu bisa??yah, walaupun tidak sempurna tapi setidaknya sudah bisa meminimalisir lah’…

Ok dengan hal tersebut diatas kita sudah tau bagaimana cara mengetahui suatu data itu valid atau tidak secara bodoh dan usaha untuk menghindarinya.

Sekarang kita akan berbicara bagaimana jika kita tidak mungkin melakukan pengukuran ulang. Apakah data itu benar data Ghost atau data yang rusak??. Hal inilah perlunya kita kuliah. Dalam teorinya tentu saja terdapat rambu-rambu dan nilai-nilai suatu parameter secara numerisnya to(bukan empiris). Jadi dari hal itu kita tahu apakah data itu mungkin ada atau data itu data rusak kita bisa analisis…

Nah, jika ternyata data itu benar data Ghost tentu saja kita akan mendapatkan masalah baru. Kita akan kesulitan dalam pengolahan datanya kan’. Lalu bagaimana cara mengakali data yang rusak tersebut?? Dan diganti berapa nilainya supaya benar??

Hal itulah kenapa geostatik diperlukan. Yang paling mudah(anak kecil aj tau ) adalah dengan meratakan dari 2 tetangga datanya. Misalkan titik A,B,C urut,segaris,dan berdekatan dan titik B rusak, maka B bisa dievaluasi dengan (A + C)/2. Istilahnya interpolasi. Itu mungkin yang paling sederhana’. Disusul dengan triangulasi dengan tetangga terdekat(evaluasi dengan 3 data yang diberi bobot)dll.Hal ini akan menjadi solusi yang bisa dipakai jika data yang rusak tersebut merupakan data yang menerus. Tapi bagaimana jika data yang rusak tersebut adalah data yang ada anomalinya?? Ya’ kalo data yang rusak tersebut adalah data yang menyimpan data anomali atau diskontinuitas maka anda adalah orang yang tidak beruntung’ he he…untuk itulah perlu pengembangan lagi dari geostatistiknya.

Dengan metode lanjut, misalkan metode kriging yang mengevaluasi seluruh data yang dikorelasikan dengan data yang rusak(dihilangkan tersebut)plus pembobotannya, kita akan lebih baik mendapatkannya. Ada juga software yang membandingkan 2 parameter fisis(misal :HRS), untuk dikorelasikan, sehingga yang satu bisa mengevaluasi parameter fisis yang lain yang tentu saja dalam 1 struktur(koordinat)

One Comment to “Anomali atau Ghost data???”

  1. Hmm..gut..gut..lumayan “smart” lah tulisannya, tapi menurutku yang namanya “ghost data” tuh gak pernah ada. Itu hanya “missing data” yang bikin kita tambah pinter, karena ujung-ujungnya kita dipaksa untuk berfikir “what happen?”why?dll”bisa saja karena tool error ato bahkan human error kan?????hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: