Feeds:
Posts
Comments

telah gugur Pahlawanku…

tunai sudah janji bakti…

gugur satu tumbuh seribu…

tanah air jaya sakti…

Jika mendengar lagu Karya Ismail Marzuki ” Pahlawanku” itu pasti kita akan terenyuh dan menimbulkan semangat halus yang terukir pada nada-nadanya. Namun ketika realita sekarang itu dihubungkan dengan lagu ini naas nya sangat-sangat memprihatinkan.

Bayangkan saja, ….negara kita semakin carut marut’

penegakan hukum tidak jelas….

mahasiswa tawuran dimana-mana…

             Bahkan jika benar gugur satu tumbuh seribu itu, mungkin yang tumbuh seribu ya hanyalah “rambut anaknya”. Nyatanya tetap saja bangsa kita masih mengalami krisis di berbagai bidang. Dan yang utama dan akar dari semua masalah tentu saja adalah krisis moral. Jika moral sudah baik, tidak mungkin akan ada tawuran, korupsi, dan kejahatan-kejahatan lain.

kata Emha Ainun Najib ” Mungkin Terlalu Lama kita Dijajah, sehingga kita tidak tahu lagi bagaimana cara mengisi kemerdekaan”.

            Ataukah Bangsa kita memang tidak mau merdeka?? tidak mau merdeka dari rongrongan nafsunya dan  kehausan kekuasaan. mungkin saja…..

mungkin…..

namun tentu diantara orang-orang yang bodoh tidak mau merdeka ini masih ada orang baik…..

dan saya harap anda percaya itu….minimal percaya pada diri anda sendiri bahwa anda adalah orang yang merdeka’

Semoga Pahlawan kita adalah orang-orang yang Syahid di JalanNya 

– Selamat Hari Pahlawan–

Hukum dan Hati Nurani

Melihat kasus yang populer disebut kasus“cicak dan buaya” itu kemaren membuat saya sedikit mengernyitkan dahi. Masalah tersebut beberapa hari ini terus menghiasi media baik cetak dan elektronik  yang terus berlomba-lomba menyajikan info teraktual mengenai masalah tersebut.

                Rekaman yang merupakan kunci kasus telah dibeberkan, dan sebagian masyarakat dari kalangan intelektual maupun buta hukum mengikuti . Mungkin diantaranya bahkan bisa memahami secara jelas.

Nah, disini saya hanya memberikan pandangan saya untuk para advokat dan pengacara. Seperti yang diketahui bersama bahwa profesi pengacara adalah profesi yang menjadi pembela seseorang yang terkena perkara hukum. Tentu pembela merupakan pihak yang membela dan memberikan bantuan hukum kepada kliennya. Namun, terkadang seseorang pengacara dengan gayanya tidak menyadari bahwa “profesi-nya” itu yang pertama haruslah berlandaskan kebenaran dan keadilan. Sekarang, tampak sangat jelas bahwa banyak para pengacara atau advokat sebegitu mudahnya “menjual” kebenaran dan keadilan itu dengan “profesi”. Bahkan, yang sangat keterlaluan adalah seorang pengacara atau advokat senior yang memainkan pasal-pasal untuk memutar balikkan konsekuensi dan berupaya untuk melindungi seorang kliennya yang jelas-jelas bersalah.

Ketika dua orang advokat senior sedang berdebat misalnya, tentu saja  saya tidak akan bisa menyaingi mereka tentang pengetahuan pasal-pasal hukum atau sejenisnya. Namun yang saya tangkap, beberapa advokat senior itu terkadang ngotot dan bersikeras dengan pasal-pasal dan logika hukumnya walaupun secara sepintas mereka itu kadang “hanya mendasarkan pada ke’pakar’an-nya atau sombong”. Jika begitu, kebenaran mungkin akan menjadi suatu komoditas yang merupakan “lahan” bagi para advokat yang bekerja untuk uang dan bukan berkerja untuk suatu kebenaran dan keadilan. Pastinya, hukum pun akan selalu bisa dipermainkan dan “rapuh” sehingga seperti saat ini, masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada perangkat dan lembaga hukum yang terlalu banyak torehan nilai merahnya.

                Mungkin ketika mereka dulu, para advokat itu belajar hukum mereka kurang dididik dengan budi perkerti dan ahlaq yang benar. Bahkan, terkadang mereka itu lupa ataukah melupakan ataukah mereka itu memang bodoh bahwa hukum itu ada karena “substansi” nya. Tentu saja substansinya secara global merupakan penegakan kebenaran, keadilan dan kemanfaatan bagi umat manusia.

Jadi ketika saya melihat seorang praktisi hukum berbicara yang ngotot dengan “pasal-pasal” yang sebenernya di pasal itu juga tidak jelas atau tidak rinci, yang hanya dengan permainan kata-kata saja dia bisa memainkan, maka saya bisa menerka bahwa orang tersebut sudah menyimpang dari yang semestinya. Padahal dalam hukum buatan manusia itu jelas tidak akan sempurna karena hanya merupakan konvensi. Dalam hal ini, tentu pasal-pasal tersebut harus jelas  dan dilihat dari sisi manapun harus memberikan manfaat. Ketika pasal tersebut belum bisa mengakomodir secara aktual maka tentu saja pasal tersebut boleh direvisi atau dikembalikan lagi kepada esensi dari pasal tersebut.

                Maka tentu saja, jika cara suatu menyikapi perkara selalu harus dengan pendekatan legal formal yang terjadi adalah bisa menjadi suatu pagar merusak tanaman, atau pedang menusuk pemiliknya sendiri. Dimana tanaman itu adalah benaran, keadilan dan kemaslahatan, dan pagar adalah hukum yang merupakan bentukan. Bukankah secara logika yang sangat mudah bisa dilihat, bahwa hukum atau perundangan itu bisa diamandemen atau dirubah, karena dia adalah bentukan. Namun anda tidak bisa merubah suatu nilai perbuatan budi pekerti. Tidak akan ada mencuri itu menjadi baik, menyakiti orang lain itu menjadi terpuji, walau dikutub selatan maka nilai-nilai hati nurani manusia yang diberikan Tuhan YME itu akan selalu berlaku. Begitu pula dengan masyarakat yang berteriak dengan hati nuraninya, apakah akan dikesampingkan terus, ataukah dituruti. Maka dalam hal ini, kearifan dari pemerintah adalah wajib. Jika masalah tidak bisa terselesaikan dan dunia semakin rusak, maka tunggu saja keputusan dan penyelesaian dari Sang Pencipta, ALLAH Azza Wa Jalla.

Wallahu A’lam Bishowab

Warung Angkringan

            Kata “angkringan” atau “angkring” mungkin sudah sangat akrab dalam kamus bahasa orang jawa terlebih di jawa timur atau jawa tengah. Kata “angkring” berarti nongkrong dalam bahasa Indonesia. Lalu “Warung Angkringan” bisa diartikan sebagai warung yang merupakan tempat untuk nongkrong. Ya enaknya mungkin bisa dibilang “cafe tradisional” :D

          Tradisional disini dapat juga diartikan ” murah meriah/ ndeso/sederhana”. Betapa tidak, karena warung yang buka setelah senja itu hanya menawarkan kursi kayu yang ditempatkan pas di depan gerobak yang juga merupakan mejanya. Disitu tersedia jajanan gorengan mulai dari pisang goreng, tempe goreng ,minuman , dan juga nasi bungkus yang biasa disebut “nasi kucing”. Disebut begitu karena porsinya sangat kecil yaitu nasinya sekepalan tangan dan lauknya juga hanya ikan teri atau tempe.  Mungkin karena di jawa jika memelihara kucing biasanya dikasih makan seperti itu (nasi + teri) maka nasi bungkus itu dinamakan begitu. 

Dengan suasana yang cukup enak dan penerangan yang cukup (dalam hal ini cukup untuk melihat bahwa yang akan digigit itu makanan) warung ini memberikan nuansa romantis(glekk??!!) dan inspiratif (ohya??). 

           Memang kebanyakan yang berkunjung ke warung ini biasanya hanya untuk ngopi dan sedikit ngemil dan berbincang-bincang santai. Namun lebih dari itu, bincang-bincang santai sambil menikmati kopi atau susu jahe tersebut terkadang bisa mengarah kepada suatu bahasan yang serius, bahkan ada juga para “petinggi mahasiswa” yang rapat atau membicarakan langkah strategis sambil lesehan di emperan yang digelari tikar itu.

          Memang jika di cafe modern, perbincangan pun bisa dilakukan. Namun jika dilihat lebih dekat lagi ada sesuatu yang “berbeda” dari sekedar gap modern-sederhana atau mahal-murah. Kesan dan bentuk warung yang “sangat sederhana” tersebut memberikan stigma dan nuansa tersendiri bagi orang-orang urbanis (termasuk saya) dan juga orang mapan yang suka mode urbanis. Kesederhanaan itu memberikan energi yang mungkin bagi beberapa orang untuk berfikir kritis dan tanggap. Selain itu kesederhanaan tersebut juga membuat suasana akrab yang terbentuk dengan sendirinya antar pengunjung warung walau belum saling kenal, seolah ada rasa kebersamaan yang terbungkus dalam suasana tersebut. Tak jarang seseorang yang membahas sesuatu yang aktual misal politik, banyak yang ikut nimbrung atau komentar. Ada juga yang share tentang pengalaman hidupnya, idealismenya , juga harapan bagi bangsa dan negara yang semua itu dapat didengar oleh sekerumun mahluk yang ada disitu.  

DSC00128

Tentu saja hal tersebut jarang atau bahkan mungkin tidak bisa didapatkan di cafe modern yang terbalut oleh gaya hidup individualis. Lebih lebih lagi bahwa kebanyakan bangsa Indonesia terpengaruh oleh budaya konsumtif yang kebablasan yang mengedepankan “prestige” dan ” glamour” yang sebetulnya belum tentu lebih produktif dan berkualitas. 

          Mungkin nuansa angkringan itu bisa disebut Suatu nilai positif dan dinamis yang dibalut budaya sederhana. Dan saya sangat setuju jika bangsa Jepang yang notabene produktifitasnya tinggi dan memiliki teknologi yang hebat tidak pernah membudidayakan budaya konsumtif walaupun mereka bisa. Mereka masih mau mengayuh sepeda untuk berbelanja dan jalan kaki. Gaya hidup hemat dan memanfaatkan apapun sebaik-baiknya merupakan nilai tambah yang membuat mereka menjadi bangsa yang paling produktif di dunia.

jadi kalau sederhana dan hemat itu baik, kenapa tidak ditiru ??  

        Setelah rehat sebentar ( maksudnya gak sampe berhari-hari) dan liat TV lagi gak disengaja melihat acara yang menarik yaitu “tatap muka” bersama farhan yang ditayangkan di salah satu televisi swasta. Topik yang disorot malam ini adalah tentang penulis. Ya, kehidupan seorang “Penulis”.

Diawali dengan prolog yang cukup menyentil yaitu bahwa masyarakat Indonesia sangat rendah dalam budaya baca-tulis, dan lebih asyik dengan media televisi yang sudah terpopulerkan sejak kanak-kanak. Padahal jika dikaji lagi, nilai-nilai dalam tulisan biasanya lebih bermutu dan dapat merangsang anak untuk berimajinasi abstrak. Jika di televisi,mereka akan cenderung “dituntun” dalam berimajinasi nya. Karakter dari tulisan biasanya juga lebih mengena, karena kita yang melukiskan sendiri tokoh idola kita pada konteks visualnya sehingga dalam pengejawantahan pun mungkin akan lebih terhayati dan lebih bernilai.

Bincang- bincang dengan seorang yang hebat pun terjadi ketika kita diajak Farhan ke Serang. Ke tempat salah satu penulis yang terkenal pada zaman 80 an yaitu ” Gola Gong”. Penulis hebat yang mempunyai satu tangan ini kemudian menjelaskan tentang esensi tulisan-tulisannya dan karyanya yang membuat saya semakin kagum. Sayang saya belum sempat baca novel itu semua, entah karena masa kecil saya agak terpinggirkan (ndeso) atau memang saya juga terkontaminasi budaya tidak suka baca itu. Tapi kayaknya enggak juga ah, Novel Laskar pelangi atau Ketika Cinta Bertasbih saja bisa saya selesaikan 2 hari. Malah ada novel yang habis semalam.

Lalu setelah dari dari Serang perjalanan dilanjutkan ke Jakarta dan Farhan dengan sukses nangkring di rumah Raditya Dika. Penulis yang menjadi bulan-bulanan masa sekarang, yang rilis buku pertamanya merupakan isi blog pribadinya. 

Walaupun penekanan pada kedua penulis ini untuk mewakili generasi yang berbeda, namun saya agak kurang pas jika Raditnya Dika dan Gola Gong dijadikan subyek perwakilan. Karena menurut saya tema-tema tulisannya pun gak sama, Raditya Dika dengan tulisan “Ngawur” nya yang untuk Humor, dan Gola Gong dengan tulisan yang ” Berisi” nya. Ya mungkin jika Gola Gong, bisa di kompare dengan Asma Nadia, Prie GS , ato Aditya Mulya misalnya.

Apapun itu, sebenernya saya suka baca semuanya. Apakah itu Dari Raditya Dika (pas banget sore tadi saya baru baca ebook “Cinta Brontosaurus” nya), Prie GS dengan “Ipunk” nya, atau Aditya Mulya dengan “Traveller’s Tale” nya… semuanya lebih menarik mata dan hati saya daripada buku kuliah. hehe…

Arrgghh!!!, masih banyak juga ternyata ebook yang saya koleksi dan blom sempet baca. Mulai dari Andrea Hirata sampe Kisah Soekarno yang dalam bhs Inggris itu. Kapan ada waktu ya ???

[[ ada yang nyahut]] : heii’…hurry….hurry…your FINAL PROJECT is waiting for finish’

saya : hyahahaa….iya iya”….ampuun kakak’ :D

Di sana sini peringatan sumpah pemuda diwarnai dengan demo, orasi dan lain-lain.  Sumpah pemuda mungkin dulunya merupakan cerminan dari bentuk komitmen kaum pemuda saat itu (tahun 1928) untuk mempersatukan dan memerdekakan bangsa dibawah satu bendera yaitu Indonesia.

sekarang…..

Ada juga yang memperingati dengan komitmen, semangat, dan orasi yang menggebu-gebu, ada juga yang lempeng aja tanpa ada pengaruh apa-apa(seperti saya), ada juga mungkin yang bahkan tidak tau dan tidak mau tahu….

Eniwei , ketika saya melihat dan mendengar para mahasiswa meneriakkan orasi atau tuntutan tersebut saya ikut senang. Dalam arti ya memang hal tersebut harus ada yang melakukan walau tujuannya kadang tidak jelas atau tujuan jelas tapi tidak bersolusi. Yang saya maksud solusi disini adalah solusi riil yang memang bisa diterapkan dalam jangka waktu dekat atau solusi yang terukur. Nahh, kalo sudah begitu bukankah ribuan kali kita berdemo jika dihitung mulai adanya reformasi tahun 1998, menyuarakan aspirasi rakyat, atau menyuarakan apa saja yang dianggap benar.  Tapi sekarang nyatanya bangsa kita tidak pernah merasa lebih baik, semakin terpojok dalam hubungan internasional, dan tidak dihargai oleh negara tetangga. Apa yang salah?? yang demo salah?? pemerintah selalu salah?? atau memang semua salah??

Tentu tidak akan ada habisnya jika kita terus bertanya siapa yang salah, Namun sebagai renungan, harusnya sekarang kita sadar bahwa sekarang sudah lebih dari 10 tahun kita meninggalkan titik nol reformasi. Dan jika kita terus mencari cari maka kita terus saja akan berkutat dalam lingkaran angan semu reformasi itu sendiri. Jika Soekarno berkata “berilah aku 10 PEMUDA, maka aku akan mengguncang dunia” hanya sampah dan bualan, mungkin ya tidak usah diperingati saja sumpah pemuda. Namun jika kalimat itu dipandang benar, maka harusnya para pemuda lebih menyadari perannya dan arti penting dirinya. Dan cara mewujudkan hal itu tentu saja dengan terlebih dahulu “Bangunlah jiwanya…..untuk Indonesia raya” yang berarti pembangunan moral dan ahlaq pemuda yang bertujuan untuk kebaikan bangsa Indonesia.

Refleksi yang dapat dilihat langsung apakah pemuda Indonesia sudah berkriteria untuk mengguncang dunia itu tentu sangat terlihat. Kita lihat saja mahzab dan gaya hidup para pemuda sekarang, pergaulan mereka, dan tingkat pemahaman terhadap agama mereka. Lebih jauh lagi kita juga bisa melihat berapa persen para pemuda kita yang menganggur pada usia 22-30 tahun. Polemik yang terjadi sekarang tentu kita bisa melihat bahwa unsur-unsur diatas mayoritas kita berada dalam tanda negatif (-) yang artinya sangat riskan dan berbahaya untuk keberlangsungan pembangunan.

Bukankah seharusnya pembenahan itu harusnya dimulai dari diri sendiri dulu?? Maka dalam hal ini seharusnya para pemuda lebih “aware” terhadap masalah-masalah remaja dan pemuda itu sendiri. Bagaimana dia membuat 10 pemuda lain terinspirasi untuk memperbaiki diri, bagaimana dia menjadi pemuda yang “produktif” dan bisa memberdayakan orang-orang disekitarnya. Tentu saja tidak mudah untuk menjadi pemuda sekaliber “bill gates” atau ” Mark Zukenberg” yang bisa mengguncang dunia. Namun tentu saja hal itu dapat terwujud jika potensi yang ada pada para pemuda Indonesia yang bodoh-bodoh ini (bodoh, karena terlalu banyak yang berbakat seperti Profesor termuda di Amerika itu orang Indonesia(Nelson  Tansu), Di Nanyang, bahkan mungkin di Univ2 lain itu orang Indonesia) disertai dengan kesadaran dan integritas. Kesadaran untuk berjuang dan mengabdi pada Tuhan dan Negaranya.

Seandainya perbaikan untuk pemuda ini berhasil, maka tidaklah perlu demonstrasi atau tuntutan yang dialamatkan kepada pemerintah itu dilebih-lebihkan, karena nanti pada waktunya mereka juga akan mati dan pemuda itu sendiri yang akan mengganti.

Terlepas dari itu semua, ternyata kita belum bisa bergerak dengan leluasa dari jeratan nafsu dan keinginan kita sendiri. Keinginan yang lebih mengarah pada kenyamanan pribadi dan jeratan “perut yang lapar”.

jika saya menjajak pendapat semua mahasiswa yang berorasi dan menerikkan yel-yel sumpah pemuda itu dengan pertanyaan” Apa yang akan anda pilih jika terdapat dua pilihan, bekerja untuk negara dengan gaji UMR , atau kerja di perusahaan asing dengan gaji 50 kali lipat??” saya akan berani memastikan akan lebih banyak pemilih opsi kedua. Tentu saja mereka tidak salah karena mereka juga butuh “kenyang” dan kehidupan yang baik. Lalu jika mereka sebenernya tidak mau, maka orang tua yang akan menyalahkan mereka. Jadi, nasionalisme itu sebatas kata-kata?? bukan begitu. Yang lebih tepat mungkin adalah jangan berkata tentang nasionalisme ketika kamu “lapar”, karena kebutuhan utama manusia adalah makan untuk hidup.

Maka, jika dirunut polemik ini tidak selesai kecuali pembenahan moral mental dan integritas  itu menjadi tujuan utama dan HARUS BERHASIL. Moral berarti dia mau menjadi baik, mental berarti dia tidak takut akan ketidaknyamanan, dan integritas yang berarti komitmen yang tidak luntur.

Older Posts »