Feeds:
Posts
Comments

Akhir-akhir kmaren saya kurang ngeh untuk ngisi  blog.  Setidaknya itu bukan karena saya sibuk banget, namun karena beberapa waktu lalu saya mliger-mliger( mobile terus) dari bandung-rumah trenggalek- malang. Maka otomatis saya gak bisa memiliki akses internet seperti di bandung.

Nah, karena sekarang saya memiliki banyak waktu luang maka saya bisa nulis lagi di blog…

Perjalanan bolak balik saya Bandung- Malang itu sebenernya diawali dari maen-maen aja ke temen yang dari SMA yang memang banyak yang kuliah di Malang. Di Malang sekitar 2 hari itu ternyata ada yang menarik saya untuk kembali lagi kesitu, Ya semoga saja nantinya dapat menjadi rejeki dan juga itung-itung belajar bisnis dari temen yang kuliah di jurusan bisnis :D hehe…jadi saya merampok ilmu secara gratis

Ketika di Malang saya sangat surpise dengan harga makanan yang sangat “miring” dibandingkan dengan Bandung. Menunya pun sangat variatif dan relatif lebih higienis. Walaupun berada di daerah kosan, namun setidaknya warung-warung atau kantin di daerah sekitar Universitas Brawijaya itu bersih. Tidak seperti di Bandung yang kurang memperhatikan kebersihan dan terkesan “jorok”, lingkungan kos di situ juga lebih tertata. Namun saat di kosan beberapa temen ada juga yang kurang bersih (seperti di Bandung) :D

Secara geografis Malang dan Bandung relatif sama yaitu berada pada daerah pegunungan yang artinya udaranya dingin. Tentu saja jika disuruh memilih Jakarta/ Surabaya atau Bandung / Malang saya akan lebih memilih yang kedua karena tidak panas. Nah, karena antara Bandung atau Malang itu dipilih-pilih lagi, dengan melihat kedua faktor diatas yaitu harga makanan yang murah dan tingkat kebersihan maka mungkin Malang adalah pilihan yang bagus untuk domisili. Weitts, tapi tunggu dulu….

Domisili biasanya khan identik dengan “tempat kerja / kantor” , sedangkan mungkin kalau di Malang bidang kerja saya mungkin sangat jarang atau tidak ada. Sebenernya juga gak harus bekerja di bidang yang ditekuni juga gak apa-apa asal bisa survive dan sukses. Namun pastinya juga pengen donk memakai sedikit yang sudah dipelajari selama 4 tahun tersebut. Bahkan kalau mau diterusin belajar lagi, jika masih dalam 1 keilmuan khan gak terlalu “njomplang”…nah, sampai disini polemik lagi bukan?? hihihi…

Jadi Intinya untuk domisili permanen itu kadang gak hanya masalah kenyamanan, tapi juga bergantung kepentingan profesi dan juga faktor lain juga’ . Jadi??.. so what??? ahh, pindah2 juga gak papa, Punya Rumah dimana-mana  juga gakpapa :D

Setelah melewati hari-hari dengan banyak kegagalan dan banyak pertanyaan yang belum semuanya terjawab, akhirnya hari itu datang juga’

“sidang” …. adalah kata keramat yang paling ditunggu-tunggu oleh mahasiswa ITB. Kata yang mungkin juga sangat menakutkan karena pada waktu itu segala sesuatu yang dipelajari selama kuliah dipertanggungjawabkan. Hal itu juga merupakan titik penentuan apakah mahasiswa tersebut layak lulus atau tidak. Dan sebenernya bagaimanapun khawatirnya kita tentang waktu, jika bumi terus berputar maka kekhawatiran itu hanyalah  bumbu dari suatu penantian seiring perjalanan waktu….

dan Akhirnya sore itu , 17 Desember 2009

…..pada salah satu ruangan gedung LABTEK BIRU- Institut Teknologi Bandung, terdengar ribut2 kecil. 3 mahasiswa yang dinyatakan lulus yang salah satunya adalah “ajunkwees” seakan tidak percaya mereka bisa lulus melewati waktu yang keramat itu….

maka setelah dosen2 meninggalkan ruangan terlebih dahulu, nampak tawa dan senyum yang sangat lega. Nafsu makan yang sempat hilang dalam beberapa haripun sudah kembali pulih, yang terbukti dengan lahapnya mereka menghabiskan sisa jajanan yang disiapkan untuk para dosen….

” kita luluss…kita lulus coyy!!!”,

begitu seloroh salah seorang mahasiswa yang tidak tahu lagi harus bagaimana berekspresi dan meluapkan perasaan gembiranya….

——–…………………………but its just end

End of the Beginning………………………………………….


UCAPAN TERIMAKASIH

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, karena dengan Rahmat dan Hidayah Nya semata Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. Sholawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW  sebagai  tauladan ummat.

Dalam mengerjakan Tugas Akhir ini tentunya saya tidak melangkah sendiri. Karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Terima kasih kepada :

-          Ibu / Bapak di Trenggalek, yang dengan doa dan kerja kerasnya telah mengiringi saya dari awal hingga akhir dalam pendidikan.

-          Adik saya , Pipit, yang selalu menjadi obyek kenakalan saya.

-          Keluarga besar di Trenggalek – Kediri.

-          Bapak Sonny Winardhi, Selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan bijaksana mau membimbing mahasiswa seperti saya.

-          Bapak Hendra Grandis, atas segala pengalaman dan nasehat yang diberikan.

-          Dosen-dosen saya bapak Wahyu Triyoso, Bapak Nanang TP, Pak Afnimar, Pak Sri Widiyantoro, Bapak Gunawan Ibrahim, Bapak Awali Priyono, Bapak Untoro dan semua dosen yang telah memberikan ilmunya.

-          Luhur Akbar D, Untuk jalan-jalan dan semuanya. Kita jadi wisuda bareng khan? :D

-          Alfan, yang telah mengiringi saya 4 tahun di kosan dan banyak saya repotkan.

-          Udin, Yanuar, Jaw,Kahfi, Amin,Mas Dagdo, Mas Ndaru, Siska, Dewa, dan semua anggota Ald Smada yang telah menjadi keluarga besar di Bandung.

-          Temen- temen seperjuangan, Agung PS (slow), Hanif, Marwan, Nurul, Riri,Wulan, Ihsan(masih gila mang??), Husni dan Semua  temen angkatan terakhir GP ’05.

-          Bang Hengki, Alditama, dan semua teman HMGM.

-          Kang Aan Ibnu Anaya, atas diskusi dan sharing ilmunya.

-          Mas Udin, Bang Arden, Bang Meyman dan semua penghuni lab. seismik.

-          Seluruh staf TU GM dan TG. Pak Udin, Mbak Lilik, Pak Maman..dll

-          Dan semua yang terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu

Semoga Rahmat Allah selalu mengiringi kita semua, Amin.

              Beberapa hari yang lalu muncul berita yang menyebutkan bahwa setelah pemberian vaksin kaki gajah secara massal di jawa barat, berbagai macam efek dari sakit sampai meninggal dunia terjadi. Terakhir yang saya dengar yang meninggal mencapai 9 orang.

Lucunya ketika saya melihat berita ibu menkes dengan santai menjawab yang intinya : Saya yakin itu bukan karena pemberian vaksin”….

Padahal semua sudah tahu, dan mana mungkin ada penyakit massal menyerang bertepatan dengan pemberian vaksin itu??!!

              Dan kelihatannya masalah ini malah tidak dihiraukan secara besar-besaran seperti kasus korupsi atau cicak VS buaya yang sedang hangat sekarang ini. Padahal ini adalah masalah yang sangat serius karena berhubungan langsung dengan NYAWA MANUSIA’

masalah NYAWA Bu Menteri!!! , 

ketika saya buka ternyata juga ada yang curhat tentang efek vaksin itu (tentunya dia tidak sampai mati karena masih bisa nulis)

DISINI dan juga

DISINI

 kalau nyawa manusia sudah tidak dihargai lagi, maka layakkah kita dianggap manusia?? Saya sebenernya tidak mau berprasangka jelek, namun kalau nyawa manusia tidak dihargai atau bahkan dibuat PERCOBAAN, maka sudah jelas bahwa pemerintah itu sudah SANGAT DZALIM kepada rakyatnya.  

Saya berharap agar pertanggung jawaban pemerintah atas masalah ini’ kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Dan Tentunya nanti DI AKHERAT juga’  

===

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.

(QS An Nisaa-93)

—-

 – Wassalam–                

telah gugur Pahlawanku…

tunai sudah janji bakti…

gugur satu tumbuh seribu…

tanah air jaya sakti…

Jika mendengar lagu Karya Ismail Marzuki ” Pahlawanku” itu pasti kita akan terenyuh dan menimbulkan semangat halus yang terukir pada nada-nadanya. Namun ketika realita sekarang itu dihubungkan dengan lagu ini naas nya sangat-sangat memprihatinkan.

Bayangkan saja, ….negara kita semakin carut marut’

penegakan hukum tidak jelas….

mahasiswa tawuran dimana-mana…

             Bahkan jika benar gugur satu tumbuh seribu itu, mungkin yang tumbuh seribu ya hanyalah “rambut anaknya”. Nyatanya tetap saja bangsa kita masih mengalami krisis di berbagai bidang. Dan yang utama dan akar dari semua masalah tentu saja adalah krisis moral. Jika moral sudah baik, tidak mungkin akan ada tawuran, korupsi, dan kejahatan-kejahatan lain.

kata Emha Ainun Najib ” Mungkin Terlalu Lama kita Dijajah, sehingga kita tidak tahu lagi bagaimana cara mengisi kemerdekaan”.

            Ataukah Bangsa kita memang tidak mau merdeka?? tidak mau merdeka dari rongrongan nafsunya dan  kehausan kekuasaan. mungkin saja…..

mungkin…..

namun tentu diantara orang-orang yang bodoh tidak mau merdeka ini masih ada orang baik…..

dan saya harap anda percaya itu….minimal percaya pada diri anda sendiri bahwa anda adalah orang yang merdeka’

Semoga Pahlawan kita adalah orang-orang yang Syahid di JalanNya 

– Selamat Hari Pahlawan–

Hukum dan Hati Nurani

Melihat kasus yang populer disebut kasus“cicak dan buaya” itu kemaren membuat saya sedikit mengernyitkan dahi. Masalah tersebut beberapa hari ini terus menghiasi media baik cetak dan elektronik  yang terus berlomba-lomba menyajikan info teraktual mengenai masalah tersebut.

                Rekaman yang merupakan kunci kasus telah dibeberkan, dan sebagian masyarakat dari kalangan intelektual maupun buta hukum mengikuti . Mungkin diantaranya bahkan bisa memahami secara jelas.

Nah, disini saya hanya memberikan pandangan saya untuk para advokat dan pengacara. Seperti yang diketahui bersama bahwa profesi pengacara adalah profesi yang menjadi pembela seseorang yang terkena perkara hukum. Tentu pembela merupakan pihak yang membela dan memberikan bantuan hukum kepada kliennya. Namun, terkadang seseorang pengacara dengan gayanya tidak menyadari bahwa “profesi-nya” itu yang pertama haruslah berlandaskan kebenaran dan keadilan. Sekarang, tampak sangat jelas bahwa banyak para pengacara atau advokat sebegitu mudahnya “menjual” kebenaran dan keadilan itu dengan “profesi”. Bahkan, yang sangat keterlaluan adalah seorang pengacara atau advokat senior yang memainkan pasal-pasal untuk memutar balikkan konsekuensi dan berupaya untuk melindungi seorang kliennya yang jelas-jelas bersalah.

Ketika dua orang advokat senior sedang berdebat misalnya, tentu saja  saya tidak akan bisa menyaingi mereka tentang pengetahuan pasal-pasal hukum atau sejenisnya. Namun yang saya tangkap, beberapa advokat senior itu terkadang ngotot dan bersikeras dengan pasal-pasal dan logika hukumnya walaupun secara sepintas mereka itu kadang “hanya mendasarkan pada ke’pakar’an-nya atau sombong”. Jika begitu, kebenaran mungkin akan menjadi suatu komoditas yang merupakan “lahan” bagi para advokat yang bekerja untuk uang dan bukan berkerja untuk suatu kebenaran dan keadilan. Pastinya, hukum pun akan selalu bisa dipermainkan dan “rapuh” sehingga seperti saat ini, masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada perangkat dan lembaga hukum yang terlalu banyak torehan nilai merahnya.

                Mungkin ketika mereka dulu, para advokat itu belajar hukum mereka kurang dididik dengan budi perkerti dan ahlaq yang benar. Bahkan, terkadang mereka itu lupa ataukah melupakan ataukah mereka itu memang bodoh bahwa hukum itu ada karena “substansi” nya. Tentu saja substansinya secara global merupakan penegakan kebenaran, keadilan dan kemanfaatan bagi umat manusia.

Jadi ketika saya melihat seorang praktisi hukum berbicara yang ngotot dengan “pasal-pasal” yang sebenernya di pasal itu juga tidak jelas atau tidak rinci, yang hanya dengan permainan kata-kata saja dia bisa memainkan, maka saya bisa menerka bahwa orang tersebut sudah menyimpang dari yang semestinya. Padahal dalam hukum buatan manusia itu jelas tidak akan sempurna karena hanya merupakan konvensi. Dalam hal ini, tentu pasal-pasal tersebut harus jelas  dan dilihat dari sisi manapun harus memberikan manfaat. Ketika pasal tersebut belum bisa mengakomodir secara aktual maka tentu saja pasal tersebut boleh direvisi atau dikembalikan lagi kepada esensi dari pasal tersebut.

                Maka tentu saja, jika cara suatu menyikapi perkara selalu harus dengan pendekatan legal formal yang terjadi adalah bisa menjadi suatu pagar merusak tanaman, atau pedang menusuk pemiliknya sendiri. Dimana tanaman itu adalah benaran, keadilan dan kemaslahatan, dan pagar adalah hukum yang merupakan bentukan. Bukankah secara logika yang sangat mudah bisa dilihat, bahwa hukum atau perundangan itu bisa diamandemen atau dirubah, karena dia adalah bentukan. Namun anda tidak bisa merubah suatu nilai perbuatan budi pekerti. Tidak akan ada mencuri itu menjadi baik, menyakiti orang lain itu menjadi terpuji, walau dikutub selatan maka nilai-nilai hati nurani manusia yang diberikan Tuhan YME itu akan selalu berlaku. Begitu pula dengan masyarakat yang berteriak dengan hati nuraninya, apakah akan dikesampingkan terus, ataukah dituruti. Maka dalam hal ini, kearifan dari pemerintah adalah wajib. Jika masalah tidak bisa terselesaikan dan dunia semakin rusak, maka tunggu saja keputusan dan penyelesaian dari Sang Pencipta, ALLAH Azza Wa Jalla.

Wallahu A’lam Bishowab

Older Posts »