Ya Rabb…aku ingin dekat dengan itu untuk dekat denganMu

Hari kemaren…entah bagaimana bisa aku menentukan bahwa aku harus nekat.
Iya…nekat’. nekat menentukan beberapa pilihan dan rencana “besar”…
dan aku rasa aku telah terlambat untuk itu…bahwa aku baru menyadari bahwa rencana itu harus sudah matang 1-2 tahun sebelum lulus…

nyatanya…aku mengikuti angin saja…dan jadinya juga muter-muter saja seperti debu dititup angin.
pas sekali…

berawal ketika makan malam dengan Mas Wawan, seorang dosen yang sedang s3 di Aussie yang sedang pulang untuk menemani istrinya melahirkan. Malam itu aq sebenernya berawal dari aku yang nyeletuk lewat sms untuk Mas Wawan berkenan meluangkan waktu untuk mahasiswa ITB asal Trenggalek. Dan dengan humble nya beliau menyanggupi malam itu…

Di tempat makan itu dateng beberapa mahasiswa. Aku hanya kenal beberapa dari mereka, tapi setelah bertemu mereka ya seperti bertemu keluarga sendiri, adik sendiri. Setelah menu gurame bakar habis, kita melajutkan dengan ramah tamah yang dibuka oleh Mas Wawan (kupanggil Mas saja karena kita sama beliau gak boleh “boso” atau gak boleh pake bahasa halus untuk orang tua). Mungkin supaya beliau awet muda kali ya 😀

Dimulai dengan perkenalan oleh Mas Wawan, dan dilanjutkan kita-kita. Memang ini mungkin pertama kalinya para mahasiswa trenggalek kumpul dan ramah tamah bareng Mas Wawan semenjak beliau ke Aussie. Aq sendiri terakhir ketemu mungkin 4 tahun yang lalu…ketika mahasiswa tingkat awal. Pada sela-sela sharing pengalamannya,mas wawan cerita kalau dia dulu nekat banget, Setelah wisuda malemnya langsung ngelamar. Tapi memang jagoan seh, soalnya beliau juga cumlauder, mahasiswa berprestasi…lha aku?? haha
setelah itu dilanjutkan juga sharing oleh Pongga, seorang nekaters juga. Dia angkatan 06, berarti di bawah saya. Nikah 2 tahun yang lalu dan sekarang sudah punya anak. Aq benar-benar tertegun saat itu karena dia datang saat itu setelah ngajar privat, dan katanya juga gak bisa lama-lama karena sudah harus ngajar lagi. Saat itulah aq ngerasa kalah jauh sebagai laki-laki dewasa. Aku bisa merasakan disitu, di sorot mata seorang yang lebih muda dariku itu tanggung jawab yang penuh. Tanggung jawab menjadi seorang kepala rumah tangga dan ayah. Dan tanggung jawab itu benar-benar seperti menjadi energi yang sangat hebat…
dan selanjutnya…aku gak tau kenapa malam itu topik “nikah kapan?” menjadi suatu pertanyaan wajib yang harus dijawab pada masing-masing yang disitu,…
dan ketika giliranku akupun nyeletuk “gak jelas” entah gimana dan tiba-tiba bilang” ya nikah dulu lah”…hahaha
Nah, parahnya disitu juga ada mahasiswi angkatan 09 yang ternyata se-kecamatan denganku. Dan anak-anak yang gak tau kondisipun ngomporin dengan “udah…tuh tuh mas Agung udah pengen nikah tuh”…ahh, tengsin abis.
lalu kita melanjutkan dengan obrolan santai dan diakhiri dengan foto bareng…

Dalam obrolan santai itu mas Wawan meminta setiap yang ada disitu menyampaikan rencana dan tujuan selanjutnya. Disitu aku baru sadar, bahwa determinasi yang konsisten adalah buah dari tujuan yang terencana dengan baik. Dan aku sadar saat itu, bahwa aku sedikit telat menyadari itu…
ya, telat…

tapi aku bersyukur,setidaknya juga gak ada kata “tertutup” untuk sesuatu yang sedikit terlambat itu…

Ya Rabb…aku ingin dekat dengan tujuan-tujuan itu untuk dekat denganMu…
Semoga 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: